Header Ads

Header
  • Breaking News

    Limbah dan Kabut Asap Kelapa Sawit, Tanggung Jawab Siapa? - Kakanda Chairul Aji Bangsawan


    Limbah dan kabut asap yang di akibatkan oleh tanaman kelapa sawit sudah lama menjadi sorotan 
    oleh masyarakat Indonesia maupun dunia, dimana kehadiran perkebunan kelapa sawit secara
    langsung telah merusak tatanan ekonomi, sosial dan budaya bagi masyarakat-masyarakat
    lokal setempat.

    Tidak hanya itu saja, hak-hak masyakat atas sumber daya alam dirampas, sumber-sumber
    kehidupan seperti kebun (Karet, Rotan dan Buah-buahan), ladang dan hutan yang
    menyediakan sumber pangan bagi ratusan ribu komunitas masyarakat adat yang hidup
    turun-temurun di sekitar kawasan hutan musnah tergususur bersamaan dengan pembukaan
    lahan perkebunan kelapa sawit. Bahkan tidak cukup sampai disitu,beberapa komunitas adat
    yang hidup bertahun-tahun lamanya terusir dari wilayah kelola adatnya sendiri,
    hanya demi kepentingan investor perkebunan kelapa sawit.

    Dampak lain terhadap lingkungan akibat perkebunan kelapa sawit yaitu hutan-hutan gundul
    yang tersisa hanya semak belukar, terjadi erosi, banjir setiap tahun, bencana kabut asap
    setiap tahun, sungai/danau menjadi kering gerontang dan bahkan tercemar karena dijadikan
    tempat membuang limbah Crude Palm Oil (CPO). Masyarkat petani lokal menjerit pasalnya
    serangan ribuan hingga jutaan ekor hama belalang dan tikus terhadap perkebunan
    sayur dan ladang padi rakyat hingga musnah tidak menghasilkan apa-apa. Akibatnya
    berdampak pada turunnya tingkat kesejahtraan masyarakat dan masyarakat terpaksa
    bekerja sebagai buruh kasar di perkebunan-perkebunan kelapa sawit dengan upah rendah,
    sementra kebutuhan pokok semakin hari semakin naik yang pada akhirnya terjadi kerawanan
    pangan bagi ratuasan ribu komunitas adat. Hal ini cepat atau lambat akan memicu perlawanan
    radikalisme dari rakyat korban sehinggaterjadinya konflik sosoial berkepanjangan antara
    masyarakat adat dengan pengambil kebijakan (Pemerintah) dan juga dengan pihak
    Perkebunan Besar Swasta kelapa sawit.

    Pola pikir yang rendah, cara pandang yang sempit, analisa yang buruk dan mental yang korup
    dari para pengambil kebijakan dalam hal ini pemerintah, dalam memandang sebagai daerah
    otonom, terhadap sebuah keluasan wilayah yang dimana sekarang total luas wilayah
    perkebunan kelapa sawit di indonesia hampir sebesar luas wilayah pulau jawa ditambah lagi
    tahun 2020 indonesia membutuhkan 18jt  Hektare untuk memenuhi permintaan minyak kelapa
    sawit oleh negara negara lain. karna Indonesia adalah pemasok terbesar minyak kelapa sawit
    di dunia.

    Luasnya perkebunan kelapa sawit, besarnya tingkat mobilisasi penduduk yang dianggap pemerintah
    daerah dapat mensejatrakan rakyat baik secara ekonomi, pendidikan, kesehatan, menciptakan
    lapangan kerja, pembangunan infrastruktur dan memperbaiki lingkungan. Selain itu, pihak
    pengembang perkebunan kelapa sawit juga tidak kalah promosi yang mengatakan bahwa
    kelapa sawit memiliki berbagai turunan produk yang dimanfaatkan manusia, mulai dari mentega,
    minyak goreng, biskuit, hingga sebagai bahan industri tekstil, biodisel, farmasi, kosmetika, sabun,
    deterjen dan beberapa jenis turunan produk lainnya. Ampasnya pun dapat dimanfaatkan sebagai
    pupuk, pakan ternak serta batang dan pelepahnya dapat dimanfaatkan sebagai papan partikel
    bahkan kertas. Bahkan ketika mengetahui bahwa satu batang kelapa sawit dapat menyerap
    air 20-30 liter per hari, pun dianggap kelapa sawit dapat membantu mengatasi permasalahan
    banjir dan bahkan tidak kalah hebatnya kelapa sawit yang selama ini dikenal dengan tanaman
    yang bersifat monokultur (tidak ada jenis tumbuhan lain selain kelapa sawit yang tumbuh disatu
    hamparan) dan merusak daya serap karbon, namun sebaliknya kelapa sawit juga dapat
    menyerap karbon lebih besar dari daya serap karbon pada hutan gambut atau hutan murni
    lainnya. Kelapa sawit yang dianggap dapat menyerap air 20-30 liter per pohon per hari, kenyataanya
    justru sebaliknya berdampak kekeringan pada sejumlah danau dan sungai, begitu sebaliknya
    ketika musim hujan tiba, daya serap kelapa sawit terbatas sehingga air hujan langsung
    mengalir dengan cepat kesungai dan danau hingga volume air danau dan
    sungai meningkat, pada akhirnya membanjiri wilayah-wilayah dataran rendah. 

    Memang benar yang sering dikatakan oleh pemerintah kita bahwa hasil dari perkebunan kelapa
    sawit  bisa menjadi peluang yang baik bagi perekonomian negara. Tetapi pada faktanya peluang
    tersebut hanya bisa di nikmati oleh kelompok-kelompok tertentu yaitu orang-orang pemilik modal
    besar. dan yang dimana imbas dari limbah dan pembakaran perkebunan kelapa sawit dirasakan
    oleh masyarakat banyak misalkan seperti seorang bayi yang merasakan sesak nafas akibat
    kabut asap yang diakibatkan oleh pembakaran lahan dan kemudian ikan-ikan disungai mati
    dikarnakan efek limbah dari produksi kelapa sawit sehingga banyak sebagian masyarakat sulit
    untuk mencari ikan disungai. 

    Kalau sudah begini siapa yang  berhak bertanggung jawab? Pemerintah atau orang orang kapitalis, ataukah mungkin pemerintahan kita telah berisikan orang orang kapitalis.

    ***
    Karya Kakanda Chairul Aji Bangsawan.

    Tidak ada komentar